Menjemput
Tuhan
Oleh:
Cinung Azizy
Dimuat di mayara November 2011
Kini
suasana sudah pada puncaknya, hanya satu keinginan terbesarku, syahwatku yang
kubawa dari rahim ibuku: Melihat Wajah Tuhan.
***
Bulan tinggal separuh malam itu.
Sayup-sayup hanya suara satwa malam yang terdengar. Gesekan-gesekan angin yang
terasa lewat pelepah dedaunan. Anam masih saja duduk di beranda rumahnya yang
reot. Lirih dari mulutnya terangkai gambaran jiwanya yang syarat akan
kerinduan.
“Senja
telah berlalu, malam yang bisu seperti ini selalu bisa saja membelenggu jiwaku.
Sepiku tanpamu. Semua rasa telah terbingkai dalam palung hati., hingga aku tak
mau menyodorkannya dengan segala yang berlatar.”
“Bapak, mendengar suara Anam diluar
tidak?” tanya wanita paruh baya yang bernama Rasinah dan biasa dipanggil emak
oleh Anam. Entah sudah ada dalam perjanjian ketika masih dalam kandungan atau
adat kampung yang begitu, hingga Ia memanggilnya emak.
“Iyah, Bapak mendengar suara Anam”
jawab Bapak.
“Ibu kuatir Pak, sudah lama Anam
sering menyendiri begitu” keresahan ibunya akan sikap Anam terangkai lewat
kata-kata.
“Yo wis, besok kita bicarakan
baik-baik, kita tanya siapa tahu anam sedang memiliki keinginan tetapi takut
memberitahu kita,’” ucap Bapak menenangkan. Lalu mereka berdua beranjak ke peraduan
mimpi, berkawan sisa-sisa malam yang sebentar lagi terebut fajar di timur.
***
Keesokan harinya, sebelum sempat
Emak dan Bapak berbicara pada Anam, keanehan pada diri Anam terlihat kembali, bahkan
begitu kentara, saat Laras menemukan Anam tertidur di halaman rumah hanya
dengan selembar daun pisang. Sempat
terekam dalam benaknya kata-kata yang keluar dari mulut Anam, yang membuatnya
merasa ada kejanggalan yang harus ditindaklanjuti pada diri Anam.
“Telah
lama Kau yang kunanti, namun tak kunjung Kau tepati janji, Kau selalu diamkan aku
dalam sepi. Kau yang selalu menjadi pujaan diatas segala yang kumiliki. Tapi
Kau biarkan aku sendiri dengan sisa-sisa pagi.”
“Begitulah Bu, kira-kira yang saya
dengar waktu saya mau menimba air untuk masak di belakang,” tutur Laras pada
Emak Anam.
“Kami sendiri juga kebingungan
dengan sikap Anam bulan-bulan terakhir ini. Kami takutnya Anam menyimpan
sesuatu namun takut mengatakan, hingga dia begitu” ucap Ibunya, menanggapi
ucapan laras.
“Apa Ibu tidak kuatir kalau Anam
terganggu jiwanya? Misalnya diganggu lelembut, Bu?” duga Laras.
“Wuss, ngarang kamu”
“Ya, bisa saja kan, Bu, namanya
juga alam bawah sadar.”
“Kalau memang Anam diganggu
lelembut, Ibu rasa mustahil, Toh, dia
masih mau sholat, bahkan terlihat lebih khusyu, Solat sunat makin rajin, melek
malam juga semakin sering,” jelas ibunya.
“Ya, sudahlah kalau begitu, semoga
saja ini hanya keanehan-keanehan Anam yang tidak akan berlanjut.
Obrolan pagi itu membuat Ibu Anam
tidak tenang. Terlebih setelah ia memergoki Anam di meja makan, bukannya berdoa
malah kata-kata Anam yang terlihat semakin tidak jelas saja
“Aku, ingin sekali Kau undang aku
makan satu meja dengan-Mu. Lalu kita akan bicara banyak hal, tentang kematian,
kehidupan, dan bercanda ria tentang kekekalan.”
“Anam, mbok kamu kalau ngomong jangan suka nglantur, makanannya dimakan saja, itu makanan kesukaanmu, rendang
daging dan sambal lalaban,”ucap Emaknya.
“Aku sedang tidak ingin makan, Mak,
Aku mau ke kamar saja.”
Emaknya hanya diam dalam kebingungan
melihat anaknya begitu, Sudah tiga hari tiga malam tidak makan, berbicarapun
secukupnya, Ibunya merasa nalangsa
melihat ini semua. Kepikiran dengan ucapan laras pagi kemarin kalau Anam
diganggu lelembut. Dan akhirnya Ia minta pendapat Bapak, saudara-saudara untuk
membawa orang pintar. Tapi setelah itu hasilnya nihil, hanya ada satu jawaban,
Anam sedang mempunyai keinginan yang kuat, dan begitu besar hingga mengganggu
jiwanya. Emaknya semakin binggung dan resah saja, ketika suatu pagi mendengar
jawaban dari mulut Anam sendiri.
“Mak, apakah Mak sanggup memenuhi
permintaan Anam, jika Anam katakan apa mau Anam yang sebenarnya?”ucap Anam
lirih pada Emaknya.
“Insya Allah, jika Emak dan Bapakmu
mampu, kenapa tidak, asal kamu kembali biasa seperti dulu,” jawab Emaknya.
“Hanya satu keinginan Anam Mak,
bertemu Tuhan yang telah menciptakan Anam dan kita semua. Karena Anam ingin
benar-benar membuktikan Tuhan itu ada, Tuhan itu melihat kita. Anam ingin
melihat tangan Tuhan yang mampu menggoncangkan dunia bahkan membalikan hati
Anam, apakah mak bisa menjemput Tuhan untuk Anam?” jawab Anam panjang lebar.
“Astaghfirullah, Nak, kenapa kamu
jadi begini?” keluh Ibunya tak tahan lagi air menetes dari garis-garis pipinya.
Lalu Anam pergi ke tempat yang paling Ia sukai, hamparan sawah yang luas di belakang
rumah, menikmati kesendirianya, berharap akan menemukan sosok bayangan yang Ia
sebut sebagai Tuhan selama ini.
“Apakah Aku harus memberi sesajen
dulu, seperti yang dilakukan masyarakat pesisir laut, dengan melempar kepala
kerbau, atau dengan menyiapkan beras merah yang telah dibuat bubur lengkap
dengan sesisir pisang ambon seperti yang dilakukan oleh masyarakat lereng
gunung, agar aku benar-benar mampu melihat Tuhan atau bahkan merasa menyatu
antara tubuhku dengan tubuhNya.”
Dalam jiwanya terukir kata yang terungkap
dengan diam.
“Semua
terasa kosong, semua serasa hampa, Aku terus memijak walau telapak tak
berjejak, Aku ingin melihat sekabut bayangan, walau dalam sekam malam yang
mencekam.”
***
“Anam, besok ikutlah Bapak ke
tempat Pak Kyai Mujab. Bapak sudah lama tidak berkunjung kesana.”
“Baiklah Pak, jawab Anam singkat.”
Lalu seperti biasa, ia pergi dengan angin-angin lirih yang senantiasa
menemaninya di pinggir sawah.
“Bisik lirih deru ini, seakan pecahkan kesunyian malam, hembusan angin
malam kian menusuk tulang, angan selalu terbang melayang, gapai bayang yang
menurutku rupawan, yang selalu aku dambakan dalam setiap inci kehidupan,” lirih
suara batin Anam.
Keesokan harinya mereka pergi ke
kediaman Kyai Mujab, disambut pagar besi yang bertuliskan Pondok-Pesantren Darul Ulum, Banyuwangi. Setelah bersapa dan
berbasa-basi karena lama tak bersua dengan Kyai Mujab yang memang teman sekolah
sekaligus nyantri di Jombang dahulu, ia juga merupakan pemimpin pondok
tersebut. Ketika Anam pamit hendak berkeliling untuk melihat pondok tersebut
lalu, Bapaknya menceritakan apa yang terjadi dengan Anam. Kyai Mujab hanya
menganggukan kepala seakan tau apa yang harus ia lakukan.
“Biarkan Anam tinggal disini
terlebih dahulu, sekitar sebulan atau dua bulan, mungkin ia kesepian di rumah,”
pinta Kyai Mujab. Lalu Anam dan Bapaknya pun menyetujui.
Dengan segudang kegiatan yang Anam ikuti,
hingga pada suatu malam Kyai Mujab memanggilnya dan mengajaknya bertukar
pikiran.
“Anam, kamu memang benar, adanya
Tuhan perlu dibuktikan, karena kita adalah manusia yang hidup dengan dua alam rasionalitas dan irasionalitas. Begitu banyak media yang digunakan sebagai jalan
pembuktian, dengan menyepi, dengan puasa atau memberi sesajen. Tapi perlu
diingat, itu hanya sebagai media dan simbol adat istiadat dari kehidupan
seeorang yang tidak bisa dihilangkan”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan
Pak kyai?”
“Carilah pembuktian adanya Tuhan
lewat segala ciptaan-Nya”
“Maksudnya?” tanya Anam bingung,
“Saya ingin Kamu menikah dengan
sepupuku yang bernama Ainal Muna, Tolong fikirkan baik-baik dan sebelum kamu
menjawabnya, tadabburi dahulu firman
Tuhan dalam Al-Qur’an Surat Ar-rum Ayat 21 dan beristikharahlah,” ucap Kyai
Mujab. Lalu Anam undur diri ke kamarnya, dan melakukan apa yang diperintah oleh
Kyainya itu.
Dua minggu berlalu, kini Anam akan
kembali pada Emaknya, Untuk mengabarkan berita baik, bahwa ia akan segera
menikah dengan Aina. Di perjalanan ia berfikir sejenak, bahwa mencari Tuhan
bukanlah dengan mencari wajah-Nya, namun ada inisiasi tersendiri, seperti yang
dijelaskan dalam syair abadi itu “Diciptakan
untuknya pasangan-pasangannya sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan”
Kini Anam merasa Ia akan semakin
dekat dengan Tuhan, lewat cinta yang akan ia berikan pada Aina. Anampun merasa
jarak ia dan Tuhan sangat dekat sedekat urat nadi di lehernya, merasa semakin
tipis kelambu yang menutupinya setipis kapas. ia akan semakin mencintai Tuhan,
lewat segala ciptaan-Nya.
Di
tengah kebimbangan, kau baringkan ragamu diperaduan kerinduanku, mimpiku dalam
pangkuan-Nya, kulukis lewat rayuanmu, Aku ingin berada dalam taman hati-Nya
selamanya, dan aku ingin mendekam dalam taman hatimu terlebih dahulu, karena
bersamamu, aku mampu menyingkap tabir hingga setipis kapas untuk berjumpa
dengan-Nya,
“Aku yakin ini adalah jalan menuju
kehadiratMu.” Ucap Anam dalam petang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar